Sabtu, 07 Maret 2015

Review Gelombang: Supernova #5



Di setiap novel Supernova, Dee selalu membuat ensiklopedia menjadi bentuk cerita menarik yang dicampur dengan imajinasi. Salah satunya novel Gelombang. Di novel ini Dee mengambil adat istiadat batak untuk dijadikan latar belakang pembuka cerita. Hal ini mengingatkan saya pada Supernova yang pertama. Ketika Reuben ingin membuat suatu cerita dengan Dimas, dia berkata “Aku ingin tokoh-tokoh kita semuanya muda, usia produktif, urban, metropolis, punya akses teknologi dan informasi yang baik. Percuma pakai tokoh gelandangan atau setting desa dengan sok-sok pakai aksesori kebudayaan daerah. Kenyataannya, para yuppies tadi yang bakal jadi corong bangsa, yang mampu membangun sekaligus paling potensial untuk merusak”. Tapi di novel Gelombang ini Dee seakan-akan mematahkan pendapat Reuben, tokoh yang Dee buat sendiri dalam KPBJ, bahwa yang berasal dari desa pun juga tidak kalah dari tokoh-tokoh muda yang metropolis.

Alfa, tokoh utama yang (tadinya) merasa sebagai anak normal dari Sianjur Mula-Mula mulai merasakan perbedaan sejak sebuah upacara Gondang diselenggarakan. Dia selalu bermimpi buruk dan hampir mati karenanya. Selain itu Alfa juga sering melihat sosok besar hitam tanpa wajah kecuali mata seperti mata kucing. Gara-gara hal itu, Alfa menjadi incaran para ketua adat untuk diperebutkan menjadi muridnya. Yang pada akhirnya ternyata hanya kamuflase mereka untuk menarik perhatian Alfa. Togu Urat dan Ronggur Panghutur merupakan ketua adat beda kampung yang memiliki misi berbeda. Perkelahian antara Togu Urat dan Alfa terjadi tanpa Alfa sangka dan Alfa pun menang. Dibantu Ronggur Panghutur, Alfa diberikan 2 buah batu yang masing-masingnya mempunyai lambang sebagai identitas dirinya dan kelompoknya. Kemudian Alfa dan keluarganya merantau ke Jakarta. Di Jakarta, keluarga Alfa dibantu oleh Bapaktua yang memberikan tempat tinggal sementara sampai ayahnya mendapatkan pekerjaan dan uang yang cukup untuk mengontrak rumah sendiri. Kehidupan mereka mulai membaik dari tahun ke tahun berkat kerja keras ayahnya Alfa.

Adapun novel ini menceritakan karakter-karakter dari setiap keluarga Alfa yang berbeda-beda. Tak lupa Dee juga mencampurkan unsur humor yang dapat membuat pembaca merasa geli ketika ibunya sedang menghafal salah satu rumus fisika dari bukunya Eten, kakaknya Alfa, saat sedang mencuci baju. Selain humor, ada emosi lain yang dicampur oleh Dee ketika ayah dan ibunya bertengkar. Dee memvisualisasikan dengan baik perasaan seorang ibu yang mati-matian membela anaknya ketika ayahnya menginginkan Alfa tetap tinggal di Sianjur Mula-Mula daripada ke Jakarta. Seperti terhisap dalam kejadian-kejadian tersebut, saya mampu merasakan perasaan pada setiap tokohnya. Tidak seperti Supernova yang pertama, isi novel Gelombang lebih bervariatif. Disini saya melihat transformasi Supernova yang beranjak “dewasa”, yang tadinya karakternya sedikit, ceritanya serius dan penuh dengan footnote, sekarang karakternya menjadi lebih banyak lagi dengan sifat yang lebih bermacam-macam, ceritanya juga jadi lebih lucu dan menarik. Dan tentu saja selalu ada pengetahuan baru yang disajikan tanpa membuat footnote-nya terlalu banyak, sehingga pembaca tidak merasa terganggu dan lebih bisa menikmati jalan ceritanya.

Kembali pada tokoh utama, Alfa kemudian menawarkan diri untuk menggantikan kakaknya, Eten, merantau ke Amerika saat ada seorang bermarga Gultom menawari kesempatan tersebut. Alfa sangat sadar bahwa kepergiannya ke Amerika akan menambah beban ayahnya karena ayahnya harus berhutang besar kepada Bapaktua untuk membiayai kepergiannya ke Amerika. Karena itu Alfa mengambil kerja paruh waktu di sebuah restoran Italia sambil bersekolah di Amerika. Di Hoboken, Amerika, Alfa mendapat tempat tinggal di kediaman keluarga Batubara dari Medan yang juga merantau ke Amerika. Menurut silsilah keluarga, mereka merupakan keluarga jauh Alfa. Sehingga Alfa memanggil Amanguda atau paman kepada kepala keluarganya. Sayangnya perbedaan keyakinan antara Alfa dengan keluarga tersebut menjadikan situasi di rumah itu sangat tidak mengenakan bagi Alfa karena Alfa dianggap sebagai pemuja setan oleh sepupu-sepupunya. Tidak hanya masalah internal yang berada di rumah tersebut, Alfa juga harus selalu berhadapan dengan geng-geng dari berbagai negara yang juga termasuk imigran di Hoboken. Naluri bertahan hiduplah yang membuat Alfa harus mempelajari semua bahasa mereka dan berlaku sebaik-baiknya. Geng dari Meksiko menjadi pengecualian bagi Alfa. Keengganannya berhubungan dengan Rodrigo, ketua geng Meksiko, memicu pertengkaran yang "hanya" mengakibatkan luka-luka di wajahnya. Hal tersebut bisa dibilang keberuntungan karena Alfa merupakan teman dekat dari adik Rodrigo, Carlos, dan juga Alfa membantu Carlos untuk lulus saringan beasiswa. Tidak hanya Carlos, Alfa bersama dengan Troy, sahabat Alfa, mereka bertiga berusaha keras untuk bisa kuliah dan tinggal bersama di New York. Carlos dan Alfa yang datang dari keluarga kurang mampu hanya bisa mengandalkan beasiswa, sementara Troy sebaliknya, uang tidak pernah menjadi masalah baginya.

Sampai sini Dee tidak menunjukan hal-hal "ajaib" seperti yang terjadi di Sianjur Mula-Mula. Cerita bagian ini lebih menekankan perjuangan anak rantau dari kampung ke kota kemudian ke luar negeri. Bisa dibilang penggambaran cerita di sini tidak ada "jeda" untuk Alfa bersantai. Dari masalah hubungan dengan sepupu jauhnya, harus belajar lebih keras supaya bisa lulus saringan beasiswa, status imigran gelap yang tidak pernah absen dari pikirannya, bagaimana dia harus bersikap dengan para gangster tersebut, serta harus mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk melunasi hutang ayahnya. Bisa dibayangkan betapa besar tekanan yang datang padanya. Namun sosok Alfa diceritakan begitu tangguh, tidak pantang menyerah karena menyerah artinya mati. Di sini Dee juga menunjukkan bahwa novel tidak melulu harus menjadikan pembaca ikut melayang berimajinasi tetapi juga ikut menjejak tanah dan melihat kenyataan hidup. Tentu saja diantara beban hidup yang diceritakan di novel ini, Dee menyelipkan suatu “kunci” yaitu keberhasilan akan mengikuti orang yang bekerja keras. Dan itu berlaku pada semuanya termasuk sang tokoh utama.

Alfa kemudian berhasil mendapatkan beasiswa, lalu berkesempatan kerja di Wall Street. Satu per satu permasalahannya diselesaikan hingga tidak tersisa lagi masalah dalam hidupnya kecuali mimpinya. Dibantu dr. Nicky Evans dan dr. Colin, Alfa akhirnya mampu mengendalikan mimpinya. Merasa masih ada informasi yang kurang lengkap, Alfa mencari dr. Kalden Sakya untuk membantunya menemukan makna di mimpinya dan mengetahui jati dirinya.

Tidak hanya imajinasi dan perjuangan hidup, Dee juga menyelipkan filosofi-filosofi di novel Gelombang dan cerita cinta segitiga antara Ishtar, Alfa dan Nicky sebagai bumbu pelengkap. Sehingga menurut saya novel Gelombang ini seperti gado-gado. Tentu saja ada yang menyukai gado-gado dan ada yang tidak, bergantung pada sudut pandang dan isi kepala masing-masing.

Jadi apakah novel Gelombang ini? Novel dewasa? Novel filosofi? Atau Novel yang berisi cerita khayal?

Inilah Gelombang, semuanya itu ada didalamnya dan orang-orang menyebutnya novel Supernova.