Rabu, 28 Maret 2012

Bangku Impian

Cerita hari ini berkisah mengenai sebuah bangku sekolah. Bangku yang menjadi pusat perhatian ketika dulu pertama kali ku jejakan kaki di kelas XII.1. Kelas ini adalah kelas unggulan dan di kelas unggulan ini terdapat bangku sekolah unggulan. Ya benar, bangku sekolah unggulan. Seluruh murid-murid di sekolah ini menyebutnya bangku impian. Karena semua murid yang pernah menduduki bangku itu selama setahun, bernasib mujur. Mungkin ini hanyalah mitos yang dikarang-karang dari jaman buyutnya kakak kelas, tapi orang-orang seperti Direktur dari Perusahaan Kilangan Minyak No. 1, Bambang Tamtaman, Politikus Muda Termasyur, Indra Irsanya, Pelukis yang Go International seperti Mirsya Arzani, dan tentu saja wali kelas XII.1 yang mendapatkan banyak penghargaan karena penemuan-penemuan benda-benda arkeolognya, Prof. Sania Ahbidab, semuanya pernah menduduki bangku impian itu selama setahun penuh di kelas ini. Prof. Sania Ahbidab atau biasa kami memanggilnya bu San (dipanggil demikian karena dia tidak mau terlihat begitu tua) adalah wakil kepala sekolah yang juga menjabat sebagai wali kelas XII.1. Dia membuat suatu kejutan kepada semua murid kelas XII.1 di hari pertama kami masuk kelas dan itu bermula gara-gara bangku impian, bangku yang terletak paling depan dan berada di urutan ke-3 dari pintu masuk.

“Eh itu bangku impian...”, seru Damian sambil berlari ke arah bangku tersebut dan bertepatan saat dia mendudukinya, James pun juga menduduki bangku itu.
“James, gue udah duluan duduk di bangku ini, lo mending cari bangku yang lain aja”
Sorry bro, gue yang lebih dulu duduk disini, jadi mending lo aja yang cari bangku lain”
“Lo ngajak ribut sama gue? Jelas-jelas dari tadi tuh gue yang sampai ke sini duluan bukan lo”

Keributan terjadi di kelas. Perkelahian antara Damian dan James menjadi kegiatan pembuka di hari pertama kami memasuki kelas ini.

“Semuanya diam!!!”

Suara keras menggema dari ujung pintu mengheningkan suasana kelas, seorang wanita paruh baya nan cantik jelita berjalan menuju meja guru. Semua murid bersegera duduk ke tempat duduk secara acak dan Damian beserta James duduk di bangku impian.

“Saya tahu rumor itu sudah berkembang cukup lama di sekolah ini, dan saya sangat mengerti apa yang kalian ributkan disini. Saya Prof. Sania Ahbidab, wali kelas XII.1. Kalian bisa memanggil saya bu San. Saya akan membuat suatu kompetisi untuk memperebutkan bangku impian itu dan kompetisi ini berlaku untuk semua murid yang ada di kelas ini”

Semua terdiam. Hening. Sesekali kami saling menatap kepada yang lain sambil berbisik-bisik, mengenai perkataan bu San.

“Siapapun yang memenangkan kompetisi ini selain bisa menduduki bangku itu selama satu tahun pelajaran, juga akan saya berikan nilai tambahan untuk ujian akhir geografi”

‘Apa? Nilai tambahan untuk ujian akhir geografi? Ini kan baru awal tahun pelajaran’, semua membisikan kalimat itu kepada satu sama lain. Hadiah yang sangat menarik. Siapa yang tidak mau mendapatkan nilai tambahan untuk ujian akhir yang pelajarannya dimulai saja belum. Apalagi bisa menduduki bangku impian itu selama satu tahun pelajaran penuh.

“Kompetisinya mudah. Kalian harus menebak teka-teki dari saya dan saya akan memberikan waktu selama seminggu untuk menjawabnya. Jika setelah seminggu tidak ada yang bisa menjawab teka-teki ini dengan benar, maka bangku itu tidak akan ada yang boleh menempatinya selama satu tahun pelajaran.”

Bu San kemudian berjalan menuju papan tulis dan mulai menuliskan sesuatu

“Apakah aku? Ketika benang putih terpisah dari benang hitam, si bodoh datang menghampiri ku dan ketika sang raja mulai mengantuk, si pintar pergi meninggalkan ku. Aku mempunyai pasangan. Tanpa pasangan ku, aku akan sulit dipakai si pintar untuk berkarya dan tanpa aku, pasangan ku tidak akan berarti untuk si bodoh. Aku menjadi yang diperhatikan, maka perhatikanlah aku. Siapapun yang mengenal ku akan ku bantu untuk membuat mimpinya menjadi nyata.”

“Catatlah ini baik-baik. Jika ada yang sudah tahu jawabannya, silakan datang ke ruang guru untuk menemui saya dan ungkapkan jawabannya disana”

Setelah bu San menulis demikian, semua mencatatnya dan mulai memikirkan jawabannya. Tidak hanya Damian, James, dan anak-anak yang lain, aku pun juga ingin menduduki bangku itu. Berhari-hari aku memikirkan jawabannya, namun sangatlah sulit untuk mendapatkan jawabannya. Satu per satu anak-anak di kelas ini sudah mencoba menjawabnya, tapi belum ada satu pun yang menjawabnya dengan benar. Kecuali Damian dan James. Mereka sangat berhati-hati dalam memikirkan jawaban ini. Pernah suatu kali saat pulang sekolah aku melihat James duduk di bangku impian sendirian, memperhatikan bangku itu, kemudian menatap ke depan. Entah mengapa, tiba-tiba dia begitu girang, namun tak lama kemudian wajahnya berubah seperti mendapat kejutan. Aku sangat penasaran dan menghampirinya.

“James”
“Eh Kirana...”, ucapnya terkejut
“Lo kenapa melongo gitu?”
“Oh gak apa-apa. Gue udah tahu jawaban dari teka-teki bu San”
“Oh ya? Apa tuh?”
“Nanti bakal gue jelasin di hadapan semua anak-anak dan bu San”

James tersenyum. Senyumannya seperti seorang filsuf yang mendapatkan filsafat-filsafat baru. Begitu tenang dan dalam. Tidak ada lagi wajah menggebu-gebu pada dirinya seperti sebelum-sebelumnya. Keesokan harinya bu San memanggil Damian dan James untuk menjelaskan jawaban yang mereka dapatkan, tapi bukan dijelaskan di ruang guru melainkan di depan kelas atas permintaan James.

“Oke, dimulai dari Damian. Silakan kamu jelaskan jawaban mu”

Dengan penuh percaya diri Damian memaparkan jawabannya.

Apakah aku? Ketika benang putih terpisah dari benang hitam, si bodoh datang menghampiri ku dan ketika sang raja mulai mengantuk, si pintar pergi meninggalkan ku. Benang putih terpisah dari benang hitam artinya matahari yang mulai terbit yang menandakan pagi hari, si bodoh datang menghampiri ku artinya orang yang belum punya pengetahuan datang menghampirinya, ketika sang raja mulai mengantuk menandakan yang berkuasa, jika konteksnya masih soal waktu artinya yang menguasai hari yaitu matahari dan mulai mengantuk adalah waktu dimana matahari mulai turun yaitu waktu pertengahan antara siang hari menuju sore hari, si pintar pergi meninggalkan ku artinya yang berpengetahuan pergi meninggalkannya. Jadi satu kalimat ini memperumpamakan murid baru yang bersekolah dan pulang dengan pengetahuan dari sekolah.” 

Aku mempunyai pasangan. Tanpa pasangan ku, aku akan sulit dipakai si pintar untuk berkarya dan tanpa aku, pasangan ku tidak akan berarti untuk si bodoh. Aku menjadi yang diperhatikan, maka perhatikanlah aku. Siapapun yang mengenal ku akan ku bantu untuk membuat mimpinya menjadi nyata. Dan dari kalimat-kalimat terakhir ini sudah jelas bahwa benda yang dimaksud pasti bangku impian. Bangku impian berpasangan dengan mejanya, tentu tanpa meja dengan hanya bangku saja murid akan kesulitan untuk menulis dan tanpa bangku hanya dengan meja saja tidak akan bermanfaat bagi murid. Bangku impian juga menjadi perhatian bagi siapapun di sekolah ini dan dia bisa mewujudkan impian siapa saja yang dapat mendudukinya selama setahun.”

Penjelesan Damian diakhiri dengan tepuk tangan satu kelas. Sambil melemparkan senyum bangganya, Damian membungkukkan badan sebagai tanda hormat kepada kami seperti seorang dirigen yang memberikan salam terima kasih di akhir pertunjukan.

“Bagus Damian, tapi penjelasan mu kurang tepat. Dan jawaban mu salah”

Seketika setelah bu San menanggapi penjelasannya, semua murid terdiam dan terkejut termasuk Damian.

“Karena jawabannya adalah papan tulis”, sahut James tiba-tiba 

Aku mempunyai pasangan. Tanpa pasangan ku, aku akan sulit dipakai si pintar untuk berkarya dan tanpa aku, pasangan ku tidak akan berarti untuk si bodoh. Aku menjadi yang diperhatikan, maka perhatikanlah aku. Siapapun yang mengenal ku akan ku bantu untuk membuat mimpinya menjadi nyata. Pasangan tidak selalu harus bangku dan meja, bisa juga papan tulis dengan spidolnya. Hanya dengan papan tulis tanpa spidol murid akan sulit menuliskan jawaban di papan itu jika seorang guru memintanya menuliskan jawabannya, hanya spidol tanpa papan tulis tentu tidak akan ada gunanya bagi murid yang mau mengerti pelajaran. Papan tulis selalu menjadi perhatian di kelas ini, setiap pelajaran pasti menggunakan papan tulis. Jika kalian memahami apa yang ditulis di papan itu pada setiap pelajarannya, kalian pasti bisa menjawab soal-soal dalam ujian, jika ujian kalian menjadi bagus, kalian bisa meraih cita-cita kalian”
Well done, James. Jawaban mu benar”, ucap bu San dengan tersenyum
“Kamu berhak menempati bangku itu dan mendapatkan nilai tambahan pada ujian akhir geografi”
“Terima kasih, bu. Tapi saya rasa saya gak ingin duduk disana lagi. Saya tadinya berpikir kalau bangku ini lah yang membuat setiap yang mendudukinya bisa meraih cita-citanya. Ternyata saya salah. Siapapun yang duduk disini pasti akan terus menatap papan tulis karena letak bangkunya paling depan dan berada di tengah, sehingga mau gak mau yang selalu diperhatikan pasti papan tulis dan itulah yang membuat siapapun yang duduk disini jadi pintar, karena dia belajar. Jadi yang perlu saya lakukan adalah belajar, bukan mempercayai mitos ini”

Bu San berdiri dan memberikan tepuk tangan untuk James dan bak magnet yang menarik paku-paku berserakan, dengan serentak semua murid ikut-ikutan berdiri bertepuk tangan untuk James. Pada akhirnya bangku ini memang tidak ada yang menempati, tapi sudah menjadi sejarah yang terungkap mengapa bangku ini selalu menjadi impian semua orang.

Selasa, 07 Desember 2010

Si Putih dan Si Hitam

Ada sepasang kekasih, Si Putih dan Si Hitam.
Suatu hari, di sebuah taman kota, Si Putih dan Si Hitam sedang berkencan.
Si Putih meminta sesuatu kepada kekasih hatinya.

"Sayang, aku kepengen deh kamu jadi Putih seperti diriku"
"Gak bisa cinta, aku gak bisa putih seperti kamu", jawab Si Hitam
"Lho? Kenapa? Kamu gak sayang ya sama aku?"
"Bukan gitu. Kalo aku putih, nanti kamu gak akan mengenali diriku."
"Ah gak mungkin. Kamu kan pacar ku, masa aku gak kenalin pacar sendiri."

Akhirnya karena begitu besar rasa sayang Si Hitam kepada Si Putih, Si Hitam pun "memutihkan" dirinya sesuai dengan permintaan Si Putih. Sehari setelah Si Hitam "memutihkan" dirinya, Si Hitam dan Si Putih pun mengatur jadwal untuk berkencan kembali. Namun, tidak seperti dugaan Si Putih, dia terkejut saat melihat orang yang ditemuinya itu dan bertanya

"Kamu siapa?"
"Aku Si Hitam, cinta"
"Gak mungkin kamu Si Hitam. Pacar ku bukan Abu-Abu"

Minggu, 14 November 2010

SEGELINTIR KEHIDUPAN DI JAKARTA


Hujan deras mengguyur bumi pertiwi, tak kenal lelah, hujan pun sudah berlangsung selama 4 jam lamanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore dan kota Jakarta ini, masih saja basah. Ku putuskan untuk mengambil payung butut ku satu-satunya, ku bentangkan kainnya dan ku pegang erat penyangganya. Aku berjalan menyusuri gang jalan sampai ke jalan raya.
Ku lihat lalu lalang kendaraan dengan suara bising klakson angkot yang selalu berbunyi setiap ada orang yang berdiri menunggu di tepi, tanda menawarkan tumpangan. Ku iya kan tawaran salah satu angkot itu dan kunaiki angkot 24 jurusan Kebun Jeruk-Srengseng. Sambil menutup payung, aku duduk di  samping supir yang sedang asik menyetir sambil mendengarkan lagu dangdut favorite masyarakat Indonesia “Keong Racun”.
Asiknya dia menggoyangkan kepalanya sambil menyetir, mungkin menjadi penghiburnya di kala menghadapi macetnya jalanan ini. Namun, di kala musik masih berjalan sampai dengan reff-nya, supir angkot pun mulai tak sabar dan berteriak “Woy, jalan woy, dasar taksi bego”, umpatnya sambil membunyikan klakson berkali-kali. Tak kehilangan akal, supir angkot pun menyalip dari sebelah kiri ke arah kanan dengan gesit, mendahului taksi yang di depannya karena kesulitan bergerak. “Dasar taksi bego, masih jauh tuh, masih muat jalannya, bikin macet aja lo”, teriaknya lagi sambil melewati taksi tersebut. Setelah menyalip, angkot pun melaju kencang menyusuri jalan. Sesekali hampir menyerempet motor, namun dengan ke-tak-peduli-an supir itu, dia tetap melaju di jalur jurusan Kebun Jeruk-Srengseng tersebut.
Sesekali ku hela nafas ini, mengadaptasi keadaan sekitar yang ada, mencoba membiasakan diri dengan kelakuan supir angkot yang ugal-ugalan sambil mendengar musik dangdut yang entah apa bagusnya sampai lagu ini membuat si supir tetap asik menggoyangkan kepalanya sambil menyetir.
Jakarta oh Jakarta, tiada hari tanpa macet. Ini lah kenyataan ibu kota negara ini. Suasana balik setelah lebaran rupanya hanya membangunkan mimpi para penduduk kota Jakarta yang masih berharap kenikmatan kosongnya jalan raya kota ini sewaktu musim mudik lebaran.
“Kiri bang”, teriak salah satu penumpang, membuat ku tersadar dari khayalan ku mengenai betapa menyenangkannya bila Jakarta sepi.
“Sebentar ya neng, depan sedikit”, jawab supir angkot.
Aku pun ikut turun karena harus mengganti kendaraan lagi untuk sampai ke tempat tujuan ku. Ku naiki bus yang lewat tidak lama setelah ku turun dari angkot.
Sesak dan padat. Ini yang dapat ku deskripsikan mengenai semua bus di Jakarta termasuk yang sedang ku tumpangi. Berdesak-desakan dengan penumpang lain membuat diri ini harus lebih waspada dengan tas bawaan ku. Sambil bergelantungan satu tangan, tas ku pegang dan ku himpit ke dada. Tidak mudah menghadapi situasi ini, bau keringat bercampur parfum yang sudah entah bagaimana wanginya bersatu padu dengan udara luar yang masuk melalui jendela bus.
Lagi-lagi kemacetan jalan yang harus ku hadapi, pelannya bus berlaju ditambah gas-rem yang tak menentu akibat padat merayapnya jalan, membuat ayunan kecil yang memabukkan penumpang bus kota ini. Angin semriwing dan letihnya badan membantu suasana yang sulit terelakan bagi penumpang untuk tetap melek. Satu per satu yang masih terjaga dari sadarnya, perlahan-lahan mulai munutupkan matanya sambil sesekali kepala terjatuh mengangguk menyusul penumpang lainnya yang sudah ke alam mimpi. Aku tetap mencoba untuk tersadar meskipun mata ini sulit untuk tetap terbuka, namun hilangnya Nokia ku beberapa waktu silam membuat tekad ku bulat untuk tidak mengulangi hal sama di dalam bus kota ini.
“Anggrek... Anggrek... Anggrek...”, teriak kenek bus, tanda bus ini sudah hampir sampai di daerah Mall Taman Anggrek.
Aku berjalan ke depan dan berdiri di samping supir bus. Barisan mulai terbentuk, sudah banyak orang juga yang ingin turun disana. Tanpa banyak berkata-kata dari pihak penumpang, supir bus pun sudah tahu harus berhenti di tempat pemberhentian halte Mall Taman Anggrek. Satu per satu barisan keluar dari busnya dan memencar ke arah tujuan masing-masing.
Hujan sudah reda. Sambil berjalan menyusuri gang-gang ke arah rumah ku, sesekali kutatap langit. Memperhatikan betapa indahnya bulan dan bintang di langit setelah hujan turun. Samar-samar terlihat, namun tetap indah dipandang mata. Sayang, indahnya langit tak mampu mengalahkan suasana hati yang kacau saat menghadapi kemacetan kota ini. Suasana hati ku yang menyatakan ‘Aku tidak suka sepi, tapi aku juga tidak suka tinggal di tempat yang seramai kota ini.
Entah bagaimana caranya, kota ini selalu saja didatangi pendatang baru dan selalu ada tempat untuk menampungnya. Gedung-gedung bertingkat berstatuskan apartemen menjadi pilihan pendatang baru yang mampu secara ekonomi untuk tinggal di kota ini. Sedangkan untuk penduduk yang kurang secara ekonomi, memilih untuk mengontrak di rumah kecil dan nyaman seperti keluarga ku.
Jakarta oh Jakarta, harus mempunyai kesabaran tingkat tinggi dan niat yang berarti untuk tinggal disini. Kalau bukan karena ayah ku telah mendapatkan pekerjaan tetap disini, sudah pasti lah aku mendesak ayah dan ibu ku untuk pindah ke Kalimantan.
“tin... tin... tin... byur...”, suara klakson mobil mengagetkan ku, cipratan genangan air hujan pun tak dapat terelakan. Basahnya seperempat bagian celana ku membuat ku ingin mengeluarkan sumpah serapah kepada si pengendara mobil itu. Sambil mengelus dada, ku wajibkan atas diriku untuk menahan amarah yang tidak ada gunanya ini, meski tak mudah untuk dilakukan. Namun, tidak berarti ini akan mengembalikan mood-ku menjadi baik.
Begitu lama aku berjalan, akhirnya sampai juga ke depan rumah ku. Kulanjutkan perjalanan ku ke arah dapur rumah melalui pintu samping, ku lihat ibu ku sedang membuatkan minuman untuk seseorang.
“Itu teh manis buat Indi ya bu?”, goda ku kepada ibu ku.
“Bukan, ini untuk bapak mu. Kamu mau?”
“Mau dong bu”, jawab ku manja.
“Ya sudah, mandi dulu sana. Nanti ibu bikinkan. Kamu sudah makan?”
“Sudah, tadi di kantor. Kalau begitu Indi mandi dulu ya bu”, jawab ku sambil mengecup kening ibu ku.
Ku langkahkan kaki menuju kamar, ku nyalakan tape dan putar tune-nya ke frekuensi 97,5 FM, Motion Radio. Lagu berjudul Baby milik Justin Bieber pun bergema di seluruh tembok kamar ku mengawali suasana santai, setelah penatnya sebagian kecil problema Jakarta ku hadapi.
Ku ambil baju dan beranjak menuju kamar mandi. Ku bersihkan tubuh ini dari keringat dan debu yang telah menempel selama berjam-jam. Emmm… segarnya, kenikmatan duniawi yang hanya bisa di dapat di ruang kecil seluas1 x 1 m2 ini membuat suasana hati menjadi cerah kembali. Ku selesaikan mandi dan meninggalkan ruang kecil itu. Ku nikmati malamnya hari dengan secangkir teh buatan ibu ku sambil mendengarkan alunan musik dari radio tape, mantab rasanya.
Sesekali ku lihat BlackBerry-ku yang berbunyi, ada notification baru yang masuk ke facebook-ku. Beberapa foto-foto narsis dari teman-teman ku yang di tag ke account-ku muncul di profile-ku, hanya untuk menunjukkan kelucuan-kelucuan mereka yang telah mereka perbuat dan dijadikan bahan pembicaraan di comment-nya. Senyuman kecil merekah di wajah ku melihat foto-foto itu. ‘Ada-ada saja perbuatan mereka’, suara hati kecil ku bicara. Terkadang alat elektronik ini juga cukup membantu ku untuk menghibur diri di kala stress-nya pekerjaan melanda.
Ku akhiri hari dengan merebahkan badan ke tempat tidur, ku gerai selimut untuk menghangatkan tubuh ini. Ku pejamkan mata dan berharap mendapatkan semangat baru lagi di keesokan harinya untuk memulai aktivitas sehari-hari.

Senin, 01 November 2010

Cermin-cermin berkaca

Cermin-cermin berkaca
ada apakah dengan indonesia
begitu banyak datang bencana
begitu banyak korban yang tiada

Cermin-cermin berkaca
rupanya Tuhan sudah murka
melihat kelakuan umat Manusia
yang tiada henti-henti berbuat dosa

Cermin-cermin berkaca
adalah datang sebuah tanda
bahwa tobat harus terlaksana
demi negri yang aman dan sentosa

Cermin-cermin berkaca
semoga Tuhan masih memberi muka
bagi tobat mereka yang sepenuh jiwa
untuk mendapat perlindungan dimana pun berada

Jumat, 22 Oktober 2010

aku yang tak berkata

Suasana buram
hati terbeban
kau hanya diam
hanya asik dengan segala urusan

aku menunggu mu
menjawab pertanyaan ku
tapi kau marah
seakan aku sangat bersalah

aku hanya minta tolong
tapi kau menganggapnya arti yang kosong
kau hanya buang muka
dan itu membuat ku terluka

kau ajak ku bicara
seakan tidak terjadi apa-apa
kini aku yang tak berkata
tapi kau tetap tak menyadarinya

Rabu, 20 Oktober 2010

STNK hilang!!! (Oh no >.<)

Waktu menunjukkan pukul 17:30 WIB, sementara daku masih pusing bercek-cok ria dengan pacar ku(haiya...). Apakah kami jadi nonton Step Up 3 atau gak di senayan? Karena ada isu yang tersebar kalau jakmania ada demo disana (hadeuh...), padahal tiket metik sudah dipesan dari tadi pagi.

Waktu terus berjalan, dan akhirnya sang pacar berkata "Kita jadi pergi", dalam hati udah takut aje nih, pegimane kalo kena bacok ya(lebay mode on), tapi ya sudahlah yang penting jadi nonton(cihuy \ (ˆ▿ˆ) /)

Jam 18:00 WIB, daku keluar kantor dan langsung meluncur ke Senayan City dengan kendaraan bermotor roda 2 bersama dengan Mr. O a.k.a Ojek. Ditengah-tengah kemacetan ibu kota Jakarta ini (buset dah bahasanya), Mr. O mampu nyalip kanan-kiri, hingga akhirnya bisa sampe Sency pukul 18:30 WIB(wew cepatnya). Dan tak lama kemudian, jeng... jeng... sang pacar pun berhasil sampai dengan selamat dengan motornya saudara-saudara...(lebay abis). Ternyata jakmanianya sudah selesai demo.

Kemudian acara pun berlanjut(yuq mare...), film diputar pukul 19:30 WIB, jadi kami makan malam dulu lalu nonton. Acara nonton berjalan dengan lancar(sep lah). Kami jalan menuju parkiran motor dan hendak beranjak pulang, akan tetapi jeng... jeng... (kali ini beneran), sang pacar berkata "Hun, STNK ku hilang",
"What?!@#$%^&*, STNK hilang?", tanyaku kaget setengah hidup
"Iya, tadi aku taro di dompet, tapi sekarang gak ada" jawabnya panik

alhasil kalang kabut lah kami berdua bolak-balik(udah kaya setrikaan) mencari STNK motor sang pacar yang hilang. Dengan segambreng pertanyaan, daku lontarkan kepada sang pacar, siapa tau dia ingat dimana meletakkan STNK tersebut. Namun, untung tak dapat diraih, malang pun menjauh pergi(nah lho bingung kan lo), dia tidak tau kemana STNK berada.


Sampai pada akhirnya, seorang petugas datang menghampiri kami dan bertanya, "Cari STNK ya?"
dengan wajah yang hampir pasrah, kami menganggukan kepala. Ternyata eh ternyata, Tuhan masih mengijinkan ku bisa tidur di rumah, petugas itu mengeluarkan STNK yang bertuliskan nomor kendaraan 'B !@#$ SPS', "Yang ini bukan?" tanya si petugas. Kami pun kegirangan sambil menunjukan wajah yang sumringah dan berkata "Iya betul, itu STNK-nya". Yeay... bapak, emak, adik, kakak, daku pulang (halah kumat lagi lebay nya)

Dengan sedikit emosi yang masih ada, ku ramaikan suasana itu dengan marah-marah kepada sang pacar karena tidak bisa menjaga STNK nya dengan baik, sang pacar yang hanya memanyunkan bibir sepanjang 5 cm(tuh kan lebay lagi) itu meminta maaf kepadaku. Mengingat malam yang sudah larut dan sudah waktunya pulang, daku pun memaafkannya dengan ikhlas(alamak, bahasanya >.<).

Dan kendaraan mesin beroda 2 itu pun meluncur ke jalan raya mengantarkan ku pulang dengan selamat(taraaa... :D).