You only find scratch here, what are you looking for? o.O
Sabtu, 07 Maret 2015
Review Gelombang: Supernova #5
Di setiap novel Supernova, Dee selalu membuat ensiklopedia menjadi bentuk cerita menarik yang dicampur dengan imajinasi. Salah satunya novel Gelombang. Di novel ini Dee mengambil adat istiadat batak untuk dijadikan latar belakang pembuka cerita. Hal ini mengingatkan saya pada Supernova yang pertama. Ketika Reuben ingin membuat suatu cerita dengan Dimas, dia berkata “Aku ingin tokoh-tokoh kita semuanya muda, usia produktif, urban, metropolis, punya akses teknologi dan informasi yang baik. Percuma pakai tokoh gelandangan atau setting desa dengan sok-sok pakai aksesori kebudayaan daerah. Kenyataannya, para yuppies tadi yang bakal jadi corong bangsa, yang mampu membangun sekaligus paling potensial untuk merusak”. Tapi di novel Gelombang ini Dee seakan-akan mematahkan pendapat Reuben, tokoh yang Dee buat sendiri dalam KPBJ, bahwa yang berasal dari desa pun juga tidak kalah dari tokoh-tokoh muda yang metropolis.
Alfa, tokoh utama yang (tadinya) merasa sebagai anak normal dari Sianjur Mula-Mula mulai merasakan perbedaan sejak sebuah upacara Gondang diselenggarakan. Dia selalu bermimpi buruk dan hampir mati karenanya. Selain itu Alfa juga sering melihat sosok besar hitam tanpa wajah kecuali mata seperti mata kucing. Gara-gara hal itu, Alfa menjadi incaran para ketua adat untuk diperebutkan menjadi muridnya. Yang pada akhirnya ternyata hanya kamuflase mereka untuk menarik perhatian Alfa. Togu Urat dan Ronggur Panghutur merupakan ketua adat beda kampung yang memiliki misi berbeda. Perkelahian antara Togu Urat dan Alfa terjadi tanpa Alfa sangka dan Alfa pun menang. Dibantu Ronggur Panghutur, Alfa diberikan 2 buah batu yang masing-masingnya mempunyai lambang sebagai identitas dirinya dan kelompoknya. Kemudian Alfa dan keluarganya merantau ke Jakarta. Di Jakarta, keluarga Alfa dibantu oleh Bapaktua yang memberikan tempat tinggal sementara sampai ayahnya mendapatkan pekerjaan dan uang yang cukup untuk mengontrak rumah sendiri. Kehidupan mereka mulai membaik dari tahun ke tahun berkat kerja keras ayahnya Alfa.
Adapun novel ini menceritakan karakter-karakter dari setiap keluarga Alfa yang berbeda-beda. Tak lupa Dee juga mencampurkan unsur humor yang dapat membuat pembaca merasa geli ketika ibunya sedang menghafal salah satu rumus fisika dari bukunya Eten, kakaknya Alfa, saat sedang mencuci baju. Selain humor, ada emosi lain yang dicampur oleh Dee ketika ayah dan ibunya bertengkar. Dee memvisualisasikan dengan baik perasaan seorang ibu yang mati-matian membela anaknya ketika ayahnya menginginkan Alfa tetap tinggal di Sianjur Mula-Mula daripada ke Jakarta. Seperti terhisap dalam kejadian-kejadian tersebut, saya mampu merasakan perasaan pada setiap tokohnya. Tidak seperti Supernova yang pertama, isi novel Gelombang lebih bervariatif. Disini saya melihat transformasi Supernova yang beranjak “dewasa”, yang tadinya karakternya sedikit, ceritanya serius dan penuh dengan footnote, sekarang karakternya menjadi lebih banyak lagi dengan sifat yang lebih bermacam-macam, ceritanya juga jadi lebih lucu dan menarik. Dan tentu saja selalu ada pengetahuan baru yang disajikan tanpa membuat footnote-nya terlalu banyak, sehingga pembaca tidak merasa terganggu dan lebih bisa menikmati jalan ceritanya.
Kembali pada tokoh utama, Alfa kemudian menawarkan diri untuk menggantikan kakaknya, Eten, merantau ke Amerika saat ada seorang bermarga Gultom menawari kesempatan tersebut. Alfa sangat sadar bahwa kepergiannya ke Amerika akan menambah beban ayahnya karena ayahnya harus berhutang besar kepada Bapaktua untuk membiayai kepergiannya ke Amerika. Karena itu Alfa mengambil kerja paruh waktu di sebuah restoran Italia sambil bersekolah di Amerika. Di Hoboken, Amerika, Alfa mendapat tempat tinggal di kediaman keluarga Batubara dari Medan yang juga merantau ke Amerika. Menurut silsilah keluarga, mereka merupakan keluarga jauh Alfa. Sehingga Alfa memanggil Amanguda atau paman kepada kepala keluarganya. Sayangnya perbedaan keyakinan antara Alfa dengan keluarga tersebut menjadikan situasi di rumah itu sangat tidak mengenakan bagi Alfa karena Alfa dianggap sebagai pemuja setan oleh sepupu-sepupunya. Tidak hanya masalah internal yang berada di rumah tersebut, Alfa juga harus selalu berhadapan dengan geng-geng dari berbagai negara yang juga termasuk imigran di Hoboken. Naluri bertahan hiduplah yang membuat Alfa harus mempelajari semua bahasa mereka dan berlaku sebaik-baiknya. Geng dari Meksiko menjadi pengecualian bagi Alfa. Keengganannya berhubungan dengan Rodrigo, ketua geng Meksiko, memicu pertengkaran yang "hanya" mengakibatkan luka-luka di wajahnya. Hal tersebut bisa dibilang keberuntungan karena Alfa merupakan teman dekat dari adik Rodrigo, Carlos, dan juga Alfa membantu Carlos untuk lulus saringan beasiswa. Tidak hanya Carlos, Alfa bersama dengan Troy, sahabat Alfa, mereka bertiga berusaha keras untuk bisa kuliah dan tinggal bersama di New York. Carlos dan Alfa yang datang dari keluarga kurang mampu hanya bisa mengandalkan beasiswa, sementara Troy sebaliknya, uang tidak pernah menjadi masalah baginya.
Sampai sini Dee tidak menunjukan hal-hal "ajaib" seperti yang terjadi di Sianjur Mula-Mula. Cerita bagian ini lebih menekankan perjuangan anak rantau dari kampung ke kota kemudian ke luar negeri. Bisa dibilang penggambaran cerita di sini tidak ada "jeda" untuk Alfa bersantai. Dari masalah hubungan dengan sepupu jauhnya, harus belajar lebih keras supaya bisa lulus saringan beasiswa, status imigran gelap yang tidak pernah absen dari pikirannya, bagaimana dia harus bersikap dengan para gangster tersebut, serta harus mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk melunasi hutang ayahnya. Bisa dibayangkan betapa besar tekanan yang datang padanya. Namun sosok Alfa diceritakan begitu tangguh, tidak pantang menyerah karena menyerah artinya mati. Di sini Dee juga menunjukkan bahwa novel tidak melulu harus menjadikan pembaca ikut melayang berimajinasi tetapi juga ikut menjejak tanah dan melihat kenyataan hidup. Tentu saja diantara beban hidup yang diceritakan di novel ini, Dee menyelipkan suatu “kunci” yaitu keberhasilan akan mengikuti orang yang bekerja keras. Dan itu berlaku pada semuanya termasuk sang tokoh utama.
Alfa kemudian berhasil mendapatkan beasiswa, lalu berkesempatan kerja di Wall Street. Satu per satu permasalahannya diselesaikan hingga tidak tersisa lagi masalah dalam hidupnya kecuali mimpinya. Dibantu dr. Nicky Evans dan dr. Colin, Alfa akhirnya mampu mengendalikan mimpinya. Merasa masih ada informasi yang kurang lengkap, Alfa mencari dr. Kalden Sakya untuk membantunya menemukan makna di mimpinya dan mengetahui jati dirinya.
Tidak hanya imajinasi dan perjuangan hidup, Dee juga menyelipkan filosofi-filosofi di novel Gelombang dan cerita cinta segitiga antara Ishtar, Alfa dan Nicky sebagai bumbu pelengkap. Sehingga menurut saya novel Gelombang ini seperti gado-gado. Tentu saja ada yang menyukai gado-gado dan ada yang tidak, bergantung pada sudut pandang dan isi kepala masing-masing.
Jadi apakah novel Gelombang ini? Novel dewasa? Novel filosofi? Atau Novel yang berisi cerita khayal?
Inilah Gelombang, semuanya itu ada didalamnya dan orang-orang menyebutnya novel Supernova.
Sabtu, 23 Agustus 2014
Kain Bermotif Parang
Cerita ini merupakan CERMIN pilihan Bentang Pustaka dengan tema BATIK Agustus 2014 minggu ketiga.
“Kenapa Engkau membiarkanku hidup jika aku tidak berguna?”
wanita itu memandang ke langit, mencari jawaban atas pertanyaannya. Nihil. Tidak
ada satupun suara yang ia dengar ataupun bentuk awan yang berubah sebagai
jawaban. “Dia bilang aku tidak berguna. Ketika dia membutuhkanku, aku selalu
tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan hanya untuk mencari sebuah kain bermotif
parang saja aku tidak bisa.” wanita itu mencoba untuk berdiri dari kursi
rodanya, namun kakinya yang tidak lagi bersahabat membuatnya terjatuh. Air matanya
sudah kering. Dia tidak lagi mampu menangis. Yang hanya dapat ia lakukan saat
ini adalah menunggu.
Matahari telah terbenam, sudah 1 jam lamanya ia menunggu.
Kini senyumnya terukir di wajahnya “jika memang Engkau tidak mencabut nyawaku saat
ini, maka baiklah aku yang berinisiatif lebih dulu untuk bertemu dengan-Mu dan
mempertanyakan semuanya. Supaya jelas bagiku, mengapa dia mengusir aku hanya
karena kain bermotif parang itu tidak dapat kutemukan.” Diambilnya sebilah
pisau dari kantung bajunya dan ditusukannya ke jantung hingga rebahlah tubuhnya.
Seorang pria yang melewati tempat itu berlari menuju wanita itu “mbak, bangun
mbak. Tolong... tolong...” dia menggendong tubuh wanita itu dan segera mencari
taksi untuk dibawa ke rumah sakit. Samar-samar wanita itu membuka matanya “kain
bermotif parang,” ujarnya parau “akhirnya aku menemukanmu.”
Rabu, 20 Agustus 2014
Cinta Mati
Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaanku. “aku
tidak mau mati” ujarku. Ya disaat itulah dia menodongkan pisau ke leherku
sambil menangis-nangis.
“Jika aku bisa memilikimu, mungkin tidak akan seperti ini
jadinya.” Dia terus saja menangis, tapi tangannya tidak lepas dari pisau itu.
“Kumohon, jangan bunuh aku” pintaku memelas. Pria itu memang
sudah gila. Tapi mungkin kegilaan ini tidak akan ada jika aku memang tidak
seusil itu masuk dalam kehidupannya.
“Aku mencintaimu dengan sangat. Mengapa kamu mau memutuskan
hubungan kita? Apa salahku?”
“Aku tidak mencintaimu Larry. Aku hanya ingin dekat
denganmu. Itu saja. Aku rasa kita telah salah paham. Kita bisa bicarakan
baik-baik kan?” Aku mencoba mencari kata-kata yang bagus untuk membujuknya, namun
usahaku sia-sia.
“Kenapa kamu tega berbuat seperti ini kepadaku? Kenapa?”
teriaknya semakin menjadi-jadi. Jantungku berdebar kencang, pria ini semakin
gila. Jika aku tidak berbuat sesuatu, dia benar-benar akan menyembelihku.
Aku mencoba meraih payung yang ada di sebelah kananku,
sayangnya tindak-tandukku telah diketahui olehnya lebih dulu.
“Mau apa kau, dasar pelacur!” Larry menusukkan pisaunya ke
jantungku. Aku terjatuh dan menahan kesakitan.
“Terimalah hadiah terakhirku untukmu, ini dari hatiku yang
paling dalam” aku menatapnya tidak percaya. Tapi disaat itu juga nafasku mulai
melemah.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Rabu, 27 Februari 2013
There is a death in my office!!!
Suara ketik jari-jemari memenuhi ruang kerja.
Semua karyawan sedang asik dengan tugasnya masing-masing.
Dan kemudian dengan serentak semua orang yang ada di ruangan itu berteriak "Yaaaaaa...."
'There is a death in my office!!!', gumam ku dalam hati.
Listrik turun, lampu beserta dengan komputer mati secara serentak di seluruh ruangan.
Hiruk pikuk memenuhi ruang kantor. Ada yang berteriak "Ya, stored procedure yang gue bikin hilang semua nih...!!!", yang lain menyahut "Data gue belom di save!!!".
Kemudian sesuatu yang lebih hidup terjadi. Perbincangan antar manusia yang baru saja bangun dari "hibernasi"-nya diantara barang-barang elektronik yang kini sedang mati
Semua karyawan sedang asik dengan tugasnya masing-masing.
Dan kemudian dengan serentak semua orang yang ada di ruangan itu berteriak "Yaaaaaa...."
'There is a death in my office!!!', gumam ku dalam hati.
Listrik turun, lampu beserta dengan komputer mati secara serentak di seluruh ruangan.
Hiruk pikuk memenuhi ruang kantor. Ada yang berteriak "Ya, stored procedure yang gue bikin hilang semua nih...!!!", yang lain menyahut "Data gue belom di save!!!".
Kemudian sesuatu yang lebih hidup terjadi. Perbincangan antar manusia yang baru saja bangun dari "hibernasi"-nya diantara barang-barang elektronik yang kini sedang mati
Bintang Semu
Salah
satu cerita mini yang menang dalam Lomba Menulis Kisah Mini Tingkat
Nasional 2012 yang diadakan oleh FSBP dan bukunya sudah diterbitkan
dengan judul "Nyawa Ibu" terbitan Uma Haju Publishing House
Janet tidak akan pernah
lupa bagaimana dia melewatkan malam yang cantik itu bersama ribuan bintang yang
terus memanggil namanya. Bak artis yang sedang menyapa penggemarnya, Janet
melambai-lambaikan tangan ke langit menyapa kerlipan-kerlipan cahaya yang tak
sabar untuk menemuinya. Namun mereka tak bisa lama, karena mereka masih harus
menemui jutaan bahkan milyaran ciptaan Tuhan lainnya dibelahan bumi yang
berlainan. Meskipun demikian, Janet tetap tersenyum menatapi langit. Senyuman
khas seorang putri tidur. Bukan, bukan seperti putri tidur di dalam dongengan.
Dia Janet, putri tidur yang menyukai bintang. Ah aku tahu, semua orang menyukai
bintang bersinar, begitu juga Janet. Tapi dia tidak sekedar menyukai, baginya
bintang itu segalanya. Kesukaannya, ambisinya, kebahagiaannya, bahkan hidupnya.
Dia selalu ingin menjadi astronot yang dapat menggapai bintang, namun
kemampuannya hanya dapat membawanya menjadi seorang astronom.
"Oh Be A Fine Girl Kiss Me"
“Kau masih
mengingatnya?”
“Tentu aku masih mengingatnya.
Jawaban terakhir yang meluluskan ku dalam mata kuliah astronomi”
“Apa kau masih mampu
menjelaskannya?”
“O, B, A, F, G, K, M.
Berdasarkan spektrumnya, bintang dibagi ke dalam 7 kelas utama yang dinyatakan
dengan huruf-huruf tersebut yang menunjukkan urutan suhu, warna dan komposisi
kimianya.”
“Marvelous. Kau sungguh luar biasa, kau bukan hanya pandai dalam
bidang astronomi, namun kau lah bintangnya”
Janet hanya tersenyum
mendengar pujianku. Seperti sudah biasa mendengarnya, dia tidak terlihat tersanjung
sekalipun.
“Ayah, kau tahu mengapa
aku menyukai bintang?”
“Karena kau ingin menjadi
astronot seperti almarhum ibumu”
“Ya benar. Namun ada
alasan lain mengapa aku menyukai bintang”
“Apa itu?”
“Karena aku seperti
bintang, ayah. Bukan bintang yang nyata, aku bintang yang semu. Bintang yang
tidak menghasilkan cahaya sendiri, tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari
bintang lain. Bintang yang hanya bisa bergantung pada cahaya lain, seperti aku
yang selalu bergantung pada darah di rumah sakit ini, semenjak aku terkena
leukimia”
“Nak, bertahanlah. Ayah pasti akan berusaha
mencari cara untuk menyembuhkan mu”
Dia hanya menggelengkan
kepala. Terlihat dari wajahnya yang pucat, dia sudah begitu lelah dengan
obat-obatan dan terapi yang diberikan para dokter.
“Ayah, aku yakin ayah
pasti siap. Jika aku sudah berada diantara bima sakti nanti, aku akan
mengumpulkan bintang yang banyak untuk diberikan kepada ayah. Aku akan menunggu
mu disana”
Matanya terlelap, degup
jantungnya melemah dan nafasnya tersengal-sengal. Raganya tak lagi mampu
menopang rohnya yang segera ingin keluar menuju antariksa. Meskipun pipi sudah
bersimbah air mata, namun aku berusaha untuk siap. Siap untuk melepasnya
terbang menuju galaksi yang selalu menjadi mimpinya.
Kamis, 19 Juli 2012
Sebatas Fajar
Pintu terbuka, seorang wanita muda memasuki apartemen dan menggantung jaketnya di gantungan pintu. Matanya disuguhkan dengan tatanan sofa dan televisi yang berada di ruang tengah yang juga menjadi ruang tamunya. Dia kemudian melangkahkan kaki menuju kamarnya. Senyum kebahagiaan mulai terlukis di wajahnya yang penat akibat kesibukan kantornya. Kesibukan yang membuatnya hampir tidak dapat merasakan rasa rindu kepada kekasih hatinya yang sekarang berada di hadapannya. Dia segera menghampiri dan memeluk kekasihnya itu.
“Aku merindukanmu”
“Aku juga, Cisa. Bagaimana dengan harimu?”
“Sibuk. Pak Yosan hampir tidak mengijinkanku istirahat sebelum semua laporan keuangannya rampung” Cisa duduk di ranjang kamarnya sambil merenggangkan tubuhnya.
“Berarti kamu belum makan dari tadi siang?”
“Sudah. Tapi terlambat. Aku baru makan jam 3 sore tadi. Semua laporan sudah kuselesaikan dan langsung aku taruh di meja kerjanya.”
Kedua insan itu terdiam sejenak. Mata mereka saling memandang. Hati mereka bertautan. Senyum merekah menjadi bahasa yang menghantarkan mereka kepada satu kalimat ‘aku menyayangimu’. Namun kemudian wajah Cisa menjadi gelisah, satu petir telah menyambar pikirannya yang membuatnya tersadar akan keadaan mereka saat ini.
“Aku ingin kita bersama selamanya”
“Kita sudah selalu bersama”
“Belum. Aku hanya bisa bertemu denganmu malam hari saja sekarang ini. Aku juga ingin menemuimu disaat lain.”
Mereka terdiam lagi. Kali ini ada wajah tak yakin yang Cisa dapatkan dari kekasihnya.
“Aku rasa kita hanya bisa seperti ini, Cisa”
Cisa terdiam. Dia sungguh tidak ingin kalimat yang baru saja di dengarnya itu keluar dari mulut kekasihnya.
“Kenapa? Aku mencintaimu dan kamu mencintaiku. Tak ada halangan bagi kita untuk bersatu selamanya bukan?”
“Umurmu sudah tidak muda lagi. Mungkin sebaiknya kamu mencari pria yang tepat dan mencintaimu dengan sungguh-sungguh.”
Petir yang kedua kalinya menyambar. Kali ini di tempat yang berbeda, bukan di pikirannya, tapi di hatinya.
“Aku tidak mau yang lain, Elanor. Aku mau kamu”
“Kita sudah saling memiliki. Tidak ada keraguan lagi mengenai perasaan kita. Tapi sekarang yang perlu kamu pikirkan adalah masa depanmu. Kamu tidak perlu lagi memikirkan aku dan hubungan kita. Kita baik-baik saja”
“Kita tidak baik-baik saja. Aku ingin selalu bertemu denganmu”
“Kamu tahu itu tidak bisa. Kamu memerlukan orang lain selain aku. Kamu butuh berkeluarga”
Cisa terdiam. Dia menangis. Hatinya teriris. Sama teririsnya dengan Elanor yang kemudian duduk di ranjang dan memegang tangan Cisa.
“Cisa, jangan menangis. Aku sedih melihatmu begini”
Cisa memandang Elanor dalam-dalam. Hatinya sakit harus membayangkan keinginan Elanor jika terjadi. Namun begitu, sebagian dari dirinya merasa yang dikatakan Elanor benar bahwa dia membutuhkan pendamping saat ini. Dia membutuhkan keluarga yang bisa mengisi hari-harinya. Namun, sebagiannya lagi menolak. Ada perasaan dimana dia merasa Elanor itu cukup baginya. Hanya Elanor.
Elanor menggelengkan kepala seolah dia membaca pikiran Cisa.
“Tidak, Cisa. Aku tahu ini keputusan yang berat untukmu. Tapi kamu harus menyingkirkan keegoisanmu dulu dan berpikirlah jauh ke depan. Kamu akan lebih bahagia mempunyai sebuah keluarga.”
“Aku tidak yakin berkeluarga akan membuat diriku lebih bahagia daripada bersamamu. Aku lebih memilih hubungan kita yang sekarang daripada menikah”
“Kamu tahu, kamu begitu mirip denganku. Kamu berkeinginan kuat, mandiri, tidak mudah putus asa, tapi kamu juga tidak berpikir panjang. Kamu lebih memilih zona aman yang kamu punya sekarang. Kamu menginginkan sesuatu yang lebih tapi kamu tahu itu tidak mungkin bisa sekuat apapun keinginan itu.”
“Karena itu aku mengagumimu, Elanor. Karena kita sama. Karena kamu yang paling mengerti aku.”
Cisa kembali menyelami lebih dalam lagi tatapan Elanor untuk melihat rasa untuknya. Dan itu masih ada tapi kali ini lebih dalam. Seperti sudah tidak dapat dipisahkan lagi. Namun, Cisa menemui rasa yang lain disana. Rasa pedih. Kepedihan akan kenyataan bahwa kebersamaan mereka tidak akan seperti yang diharapkan.
Cisa mendekap ke dada Elanor. Berbagi rasa yang mereka punya untuk dinikmati walau hanya sebentar. Walau hanya sebatas fajar. Walau hanya untuk menumpahkan air mata terakhir.
Matahari mulai menyingsing, perlahan-lahan cahaya mulai menembus jendela kamar menerangi seisi ruangan.
“Cisa, ini saat terakhirku berjumpa denganmu. Keputusan ini sudah kumantabkan demi kebaikanmu. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku akan selalu bersamamu.”
Cisa hanya bisa terisak dan terus memandang Elanor sebelum dia pergi
“Kamu tahu dimana aku berada. Aku menyayangimu”
Perlahan tapi pasti tubuh Elanor mulai menghilang ke bawah. Menyatu dengan dinginnya lantai yang baru saja diterangi mentari. Berubah gelap menjadi bayangan yang berada di bawah kaki Cisa.
Cisa melangkah pergi menuju lemari bajunya dan memandang pantulan cermin yang sosoknya serupa dengan kekasih hatinya.
“Aku juga menyayangimu, Narcisa Elanor Martinez”
“Aku merindukanmu”
“Aku juga, Cisa. Bagaimana dengan harimu?”
“Sibuk. Pak Yosan hampir tidak mengijinkanku istirahat sebelum semua laporan keuangannya rampung” Cisa duduk di ranjang kamarnya sambil merenggangkan tubuhnya.
“Berarti kamu belum makan dari tadi siang?”
“Sudah. Tapi terlambat. Aku baru makan jam 3 sore tadi. Semua laporan sudah kuselesaikan dan langsung aku taruh di meja kerjanya.”
Kedua insan itu terdiam sejenak. Mata mereka saling memandang. Hati mereka bertautan. Senyum merekah menjadi bahasa yang menghantarkan mereka kepada satu kalimat ‘aku menyayangimu’. Namun kemudian wajah Cisa menjadi gelisah, satu petir telah menyambar pikirannya yang membuatnya tersadar akan keadaan mereka saat ini.
“Aku ingin kita bersama selamanya”
“Kita sudah selalu bersama”
“Belum. Aku hanya bisa bertemu denganmu malam hari saja sekarang ini. Aku juga ingin menemuimu disaat lain.”
Mereka terdiam lagi. Kali ini ada wajah tak yakin yang Cisa dapatkan dari kekasihnya.
“Aku rasa kita hanya bisa seperti ini, Cisa”
Cisa terdiam. Dia sungguh tidak ingin kalimat yang baru saja di dengarnya itu keluar dari mulut kekasihnya.
“Kenapa? Aku mencintaimu dan kamu mencintaiku. Tak ada halangan bagi kita untuk bersatu selamanya bukan?”
“Umurmu sudah tidak muda lagi. Mungkin sebaiknya kamu mencari pria yang tepat dan mencintaimu dengan sungguh-sungguh.”
Petir yang kedua kalinya menyambar. Kali ini di tempat yang berbeda, bukan di pikirannya, tapi di hatinya.
“Aku tidak mau yang lain, Elanor. Aku mau kamu”
“Kita sudah saling memiliki. Tidak ada keraguan lagi mengenai perasaan kita. Tapi sekarang yang perlu kamu pikirkan adalah masa depanmu. Kamu tidak perlu lagi memikirkan aku dan hubungan kita. Kita baik-baik saja”
“Kita tidak baik-baik saja. Aku ingin selalu bertemu denganmu”
“Kamu tahu itu tidak bisa. Kamu memerlukan orang lain selain aku. Kamu butuh berkeluarga”
Cisa terdiam. Dia menangis. Hatinya teriris. Sama teririsnya dengan Elanor yang kemudian duduk di ranjang dan memegang tangan Cisa.
“Cisa, jangan menangis. Aku sedih melihatmu begini”
Cisa memandang Elanor dalam-dalam. Hatinya sakit harus membayangkan keinginan Elanor jika terjadi. Namun begitu, sebagian dari dirinya merasa yang dikatakan Elanor benar bahwa dia membutuhkan pendamping saat ini. Dia membutuhkan keluarga yang bisa mengisi hari-harinya. Namun, sebagiannya lagi menolak. Ada perasaan dimana dia merasa Elanor itu cukup baginya. Hanya Elanor.
Elanor menggelengkan kepala seolah dia membaca pikiran Cisa.
“Tidak, Cisa. Aku tahu ini keputusan yang berat untukmu. Tapi kamu harus menyingkirkan keegoisanmu dulu dan berpikirlah jauh ke depan. Kamu akan lebih bahagia mempunyai sebuah keluarga.”
“Aku tidak yakin berkeluarga akan membuat diriku lebih bahagia daripada bersamamu. Aku lebih memilih hubungan kita yang sekarang daripada menikah”
“Kamu tahu, kamu begitu mirip denganku. Kamu berkeinginan kuat, mandiri, tidak mudah putus asa, tapi kamu juga tidak berpikir panjang. Kamu lebih memilih zona aman yang kamu punya sekarang. Kamu menginginkan sesuatu yang lebih tapi kamu tahu itu tidak mungkin bisa sekuat apapun keinginan itu.”
“Karena itu aku mengagumimu, Elanor. Karena kita sama. Karena kamu yang paling mengerti aku.”
Cisa kembali menyelami lebih dalam lagi tatapan Elanor untuk melihat rasa untuknya. Dan itu masih ada tapi kali ini lebih dalam. Seperti sudah tidak dapat dipisahkan lagi. Namun, Cisa menemui rasa yang lain disana. Rasa pedih. Kepedihan akan kenyataan bahwa kebersamaan mereka tidak akan seperti yang diharapkan.
Cisa mendekap ke dada Elanor. Berbagi rasa yang mereka punya untuk dinikmati walau hanya sebentar. Walau hanya sebatas fajar. Walau hanya untuk menumpahkan air mata terakhir.
Matahari mulai menyingsing, perlahan-lahan cahaya mulai menembus jendela kamar menerangi seisi ruangan.
“Cisa, ini saat terakhirku berjumpa denganmu. Keputusan ini sudah kumantabkan demi kebaikanmu. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku akan selalu bersamamu.”
Cisa hanya bisa terisak dan terus memandang Elanor sebelum dia pergi
“Kamu tahu dimana aku berada. Aku menyayangimu”
Perlahan tapi pasti tubuh Elanor mulai menghilang ke bawah. Menyatu dengan dinginnya lantai yang baru saja diterangi mentari. Berubah gelap menjadi bayangan yang berada di bawah kaki Cisa.
Cisa melangkah pergi menuju lemari bajunya dan memandang pantulan cermin yang sosoknya serupa dengan kekasih hatinya.
“Aku juga menyayangimu, Narcisa Elanor Martinez”
Jumat, 20 April 2012
Matahari ini tak pernah sama lagi
Matahari ini tak pernah
sama, tak sama seperti yang kemarin, tak sama seperti senin siang yang terik
ini. Mungkin karena teriknya hingga menjadikan kafe ini sepi, menyisakan 4
orang yang sedang duduk dengan meja-meja terpisah. 2 orang tua yang seperti
sedang bernostalgia akan kisah mudanya, seorang remaja yang sedang sibuk dengan
gadget gaulnya, dan seorang lagi aku
yang sedang menuliskan sebuah cerita. Cerita hari ini mengenai aku dengan Max,
lelaki yang telah menemani ku selama 6 tahun, sampai akhirnya status in a relationship kami harus diganti. Dan
matahari ini telah berubah.
Malam itu aku datang ke
sebuah pesta. Pesta yang diadakan di rumah Max untuk merayakan cum laude S2 Manajemennya. Aku memakai fuchsia rosette dress dan membawa clutch bag pink dengan full payet. Baru setapak ku langkahkan
kaki menginjak rumahnya, suasana klasik begitu menyelimuti seisi ruangan. Instrumen-instrumen
Mozart berdentum mengayunkan kaki para tamu yang sedang berdansa, para pelayan
yang mengedarkan kue-kue kering dan gelas-gelas berisi sampanye, persis seperti
pesta para bangsawan. Sekitar 30 detik aku terpana menyaksikan pesta yang biasa
hanya ku lihat di televisi ini dan kini pesta itu ada di hadapan ku.
“Sunshine, kenapa diam saja? Ayo masuk.” Max memegang tangan ku dan
membawa ku ke tengah-tengah pesta.
“Oh ya Max, selamat ya sayang
atas kelulusan mu” ku peluk dan ku kecup pipi nya sebagai ucapan selamat.
“Terima kasih, cantik. Tapi maaf,
aku harus menemani seseorang dulu, nanti aku akan kembali lagi” ucapnya sambil
membalas kecupan
Aroma Axe Effect perlahan memudar seiring langkah kakinya menuju seorang
wanita yang mengenakan strapless long
prom dress merah yang begitu menggoda. Pelukan erat dan kecupan pipi menambah
kesan keakraban mereka ditambah beberapa percakapan yang menggoreskan lengkungan
senyum dan sedikit tawa kecil. Aku lebih memilih pergi mencari makanan yang
mungkin bisa dicicip dari pada mulai menumbuhkan rasa cemburu yang tidak
penting.
Almond
cheese cokelat, klapertart, dan puding semangka tampak menggoda
selera ku, namun aku hanya bisa mengambil buah-buahan yang tersaji untuk
menjaga berat badan ku.
“Kau sudah makan?”
“Oh Max, urusan mu sudah
selesai?”
“Sudah. Kau hanya makan buah
saja?”
Aku tersenyum mendengar
pertanyaan Max, tak bisa ku tampik lagi kalau aku memang sedang dalam masa diet.
“Oh ayolah Sunshine, apakah kau masih
mempertahankan diet konyol mu itu? Lihat lah tubuh mu, kau sudah tampak luar biasa
malam ini. Untuk apa kau melakukan diet lagi?”
Sekali lagi. Hanya senyum
yang bisa ku berikan atas pertanyaannya. Mungkin dia juga tidak tahu jika dress yang ku kenakan saat ini begitu
sempit dan bahkan hampir tidak dapat ku pakai.
“Ya, baiklah. Kita lupakan
dulu soal diet mu itu. Ada yang ingin ku bicarakan dengan mu. Mungkin ini akan
sedikit mengejutkan mu, tapi…”
Max terdiam, tampak gugup
dan sedikit kikuk. Aku terdiam memandang matanya yang tampak sedikit gusar.
“Sunshine, ku rasa ini semua harus diakhiri…”
“Diakhiri? Apanya yang
diakhiri?”
“Emmm…”
Belum sempat Max
mengutarakan maksudnya, rasa geli di perut membuat ku sedikit merinding.
“Maaf Max, aku harus ke
toilet sekarang. Bisa kau tunjukkan di mana toiletnya?”
Max mengarahkan telunjuknya
ke ujung koridor. Aku berjalan cepat menuju ke sana dan menemui sebuah pintu di
dalamnya.
“Kau lihat Max tadi?”
Seorang perempuan bertanya kepada
orang lain di luar pintu, terdengar seperti sebuah percakapan yang terjadi di
luar sana.
“Ya, dia tampak dekat dengan
Selena, mantan pacarnya waktu SMA dulu”
“Oh ya? Wanita yang bergaun
merah tadi itu Selena?”
“Ya, dia Selena”
“Jadi apakah mereka akan
melanjutkan hubungannya yang dulu?”
“Aku tidak tahu, tapi
mungkin saja begitu”
Aku segera membersihkan diri
dan menekan tombol flush. Seperti tersambar
petir, aku shock mendengar percakapan
mereka. Tidak mungkin dia tega meninggalkan ku hanya untuk kekasih lamanya. ‘Akhir’
tadi Max mengatakan ‘akhir’. apa yang dimaksudkan Max dengan kata-katanya tadi?
Apa yang diakhiri? Tidak mungkin dia meminta ku datang ke pesta ini hanya untuk
mengakhiri hubungan kami. Aku terus bertanya-tanya, aku terus merasa curiga. Jantung
ku berdetak kencang saat aku memikirkan untuk berpisah dengan Max, rasa takut
ku menjadi-jadi hingga mata ku sedikit berkaca-kaca. Matahari ini mungkin tak
pernah sama lagi, mendung kini menaungi ku masuk ke dalam pemikiran yang gelap
dan kelam.
Aku segera keluar dan
menghampiri Max, namun sepertinya dia sudah bersama wanita itu. Dekat, sangat
dekat jarak diantara mereka, sebegitu dekatnya hingga kaca yang telah tebentuk
pecah mengeluarkan tetesan air yang mengalir menyusuri pipi ku. Max mengajak
wanita itu ke tengah dan mengambil sebuah mic. Dia menatap ku dari kejauhan dengan
wajah yang masih sama tegangnya seperti tadi.
“Aku minta perhatian kepada
semuanya sebentar. Malam ini aku ingin mengumumkan sesuatu yang penting. Aku
mempunyai kekasih yang bernama Joyce. Dia ada di depan sana mengenakan gaun
berwana pink.”
Bak Miss Indonesia, semua
mata tertuju kepada ku yang sedang terdiam canggung. Aku segera menghapus air
mata supaya tidak merusak eye liner
ku yang sudah ku bentuk selama berjam-jam.
“Aku ingin membacakan sebuah
puisi untuknya. Puisi terakhir yang akan ku bacakan sebagai pacarnya. Ya, mungkin
saja setelah ini aku tidak akan menjadi pacarnya lagi”
Sontak jantung ku berhenti
meski hanya untuk sebentar. Kenyataan paling pahit yang ku bayangkan terjadi di
depan mata ku. Di depan puluhan orang di pesta ini.
Lantunan gesekan biola
mengalun dari tangan wanita bergaun merah itu, sebuah puisi terucap dari
mulutnya yang sedikit bergetar.
“Matahari
ku, hidup ku hangat bersama mu
Meski kita
tak lepas dari pertikaian
Meski ragu
datang mengganggu
Tapi
cahya mu tak hilang ditelan hujan
Matahari
ku, kau lah yang pertama bagiku
Melelehkan
es yang telah membeku
Merapuhkan
hati yang keras membatu
Hingga
membentuk ku menjadi yang baru
Matahari
ku, kau lah yang terakhir untukku
Ijinkan
ku menoreh senyuman itu
Membuat
kita menjadi satu
Maukah kau
menikah dengan ku?”
Alunan biola berhenti,
matanya memandang ku dengan penuh harap, sepenuh harapan mata-mata yang kini menatap
ku untuk menunggu sebuah jawaban.
“Aku… aku…” lidah ku kelu,
tak dapat mengutarakan apa-apa, tak dapat berpikir apa-apa.
Max datang menghampiri ku,
mendekat kepadaku dan memegang tanganku.
“Sunshine, would you illuminate me every morning and be my wife?”
Aku memeluknya. Mengucapkan beberapa
bisikkan kata yang hampir tidak bisa ku keluarkan.
“I do… I do…”
Sinar ini muncul kembali
sesudah awan gelap berkemul di hati dan pikiran ku. Kini matahari ini tak pernah
sama lagi, seperti status kami yang tak pernah sama lagi, we are married now.
Langganan:
Postingan (Atom)