Rabu, 27 Februari 2013

Bintang Semu


Salah satu cerita mini yang menang dalam Lomba Menulis Kisah Mini Tingkat Nasional 2012 yang diadakan oleh FSBP dan bukunya sudah diterbitkan dengan judul "Nyawa Ibu" terbitan Uma Haju Publishing House

Janet tidak akan pernah lupa bagaimana dia melewatkan malam yang cantik itu bersama ribuan bintang yang terus memanggil namanya. Bak artis yang sedang menyapa penggemarnya, Janet melambai-lambaikan tangan ke langit menyapa kerlipan-kerlipan cahaya yang tak sabar untuk menemuinya. Namun mereka tak bisa lama, karena mereka masih harus menemui jutaan bahkan milyaran ciptaan Tuhan lainnya dibelahan bumi yang berlainan. Meskipun demikian, Janet tetap tersenyum menatapi langit. Senyuman khas seorang putri tidur. Bukan, bukan seperti putri tidur di dalam dongengan. Dia Janet, putri tidur yang menyukai bintang. Ah aku tahu, semua orang menyukai bintang bersinar, begitu juga Janet. Tapi dia tidak sekedar menyukai, baginya bintang itu segalanya. Kesukaannya, ambisinya, kebahagiaannya, bahkan hidupnya. Dia selalu ingin menjadi astronot yang dapat menggapai bintang, namun kemampuannya hanya dapat membawanya menjadi seorang astronom.
"Oh Be A Fine Girl Kiss Me"
“Kau masih mengingatnya?”
“Tentu aku masih mengingatnya. Jawaban terakhir yang meluluskan ku dalam mata kuliah astronomi”
“Apa kau masih mampu menjelaskannya?”
“O, B, A, F, G, K, M. Berdasarkan spektrumnya, bintang dibagi ke dalam 7 kelas utama yang dinyatakan dengan huruf-huruf tersebut yang menunjukkan urutan suhu, warna dan komposisi kimianya.”
Marvelous. Kau sungguh luar biasa, kau bukan hanya pandai dalam bidang astronomi, namun kau lah bintangnya”
Janet hanya tersenyum mendengar pujianku. Seperti sudah biasa mendengarnya, dia tidak terlihat tersanjung sekalipun.
“Ayah, kau tahu mengapa aku menyukai bintang?”
“Karena kau ingin menjadi astronot seperti almarhum ibumu”
“Ya benar. Namun ada alasan lain mengapa aku menyukai bintang”
“Apa itu?”
“Karena aku seperti bintang, ayah. Bukan bintang yang nyata, aku bintang yang semu. Bintang yang tidak menghasilkan cahaya sendiri, tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari bintang lain. Bintang yang hanya bisa bergantung pada cahaya lain, seperti aku yang selalu bergantung pada darah di rumah sakit ini, semenjak aku terkena leukimia”
“Nak, bertahanlah. Ayah pasti akan berusaha mencari cara untuk menyembuhkan mu”
Dia hanya menggelengkan kepala. Terlihat dari wajahnya yang pucat, dia sudah begitu lelah dengan obat-obatan dan terapi yang diberikan para dokter.
“Ayah, aku yakin ayah pasti siap. Jika aku sudah berada diantara bima sakti nanti, aku akan mengumpulkan bintang yang banyak untuk diberikan kepada ayah. Aku akan menunggu mu disana”
Matanya terlelap, degup jantungnya melemah dan nafasnya tersengal-sengal. Raganya tak lagi mampu menopang rohnya yang segera ingin keluar menuju antariksa. Meskipun pipi sudah bersimbah air mata, namun aku berusaha untuk siap. Siap untuk melepasnya terbang menuju galaksi yang selalu menjadi mimpinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar