Rabu, 20 Agustus 2014

Cinta Mati



Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaanku. “aku tidak mau mati” ujarku. Ya disaat itulah dia menodongkan pisau ke leherku sambil menangis-nangis.
“Jika aku bisa memilikimu, mungkin tidak akan seperti ini jadinya.” Dia terus saja menangis, tapi tangannya tidak lepas dari pisau itu.
“Kumohon, jangan bunuh aku” pintaku memelas. Pria itu memang sudah gila. Tapi mungkin kegilaan ini tidak akan ada jika aku memang tidak seusil itu masuk dalam kehidupannya.
“Aku mencintaimu dengan sangat. Mengapa kamu mau memutuskan hubungan kita? Apa salahku?”
“Aku tidak mencintaimu Larry. Aku hanya ingin dekat denganmu. Itu saja. Aku rasa kita telah salah paham. Kita bisa bicarakan baik-baik kan?” Aku mencoba mencari kata-kata yang bagus untuk membujuknya, namun usahaku sia-sia.
“Kenapa kamu tega berbuat seperti ini kepadaku? Kenapa?” teriaknya semakin menjadi-jadi. Jantungku berdebar kencang, pria ini semakin gila. Jika aku tidak berbuat sesuatu, dia benar-benar akan menyembelihku.
Aku mencoba meraih payung yang ada di sebelah kananku, sayangnya tindak-tandukku telah diketahui olehnya lebih dulu.
“Mau apa kau, dasar pelacur!” Larry menusukkan pisaunya ke jantungku. Aku terjatuh dan menahan kesakitan.
“Terimalah hadiah terakhirku untukmu, ini dari hatiku yang paling dalam” aku menatapnya tidak percaya. Tapi disaat itu juga nafasku mulai melemah.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar