Jumat, 20 April 2012

Matahari ini tak pernah sama lagi


Matahari ini tak pernah sama, tak sama seperti yang kemarin, tak sama seperti senin siang yang terik ini. Mungkin karena teriknya hingga menjadikan kafe ini sepi, menyisakan 4 orang yang sedang duduk dengan meja-meja terpisah. 2 orang tua yang seperti sedang bernostalgia akan kisah mudanya, seorang remaja yang sedang sibuk dengan gadget gaulnya, dan seorang lagi aku yang sedang menuliskan sebuah cerita. Cerita hari ini mengenai aku dengan Max, lelaki yang telah menemani ku selama 6 tahun, sampai akhirnya status in a relationship kami harus diganti. Dan matahari ini telah berubah.

Malam itu aku datang ke sebuah pesta. Pesta yang diadakan di rumah Max untuk merayakan cum laude S2 Manajemennya. Aku memakai fuchsia rosette dress dan membawa clutch bag pink dengan full payet. Baru setapak ku langkahkan kaki menginjak rumahnya, suasana klasik begitu menyelimuti seisi ruangan. Instrumen-instrumen Mozart berdentum mengayunkan kaki para tamu yang sedang berdansa, para pelayan yang mengedarkan kue-kue kering dan gelas-gelas berisi sampanye, persis seperti pesta para bangsawan. Sekitar 30 detik aku terpana menyaksikan pesta yang biasa hanya ku lihat di televisi ini dan kini pesta itu ada di hadapan ku.

Sunshine, kenapa diam saja? Ayo masuk.” Max memegang tangan ku dan membawa ku ke tengah-tengah pesta.
“Oh ya Max, selamat ya sayang atas kelulusan mu” ku peluk dan ku kecup pipi nya sebagai ucapan selamat.
“Terima kasih, cantik. Tapi maaf, aku harus menemani seseorang dulu, nanti aku akan kembali lagi” ucapnya sambil membalas kecupan

Aroma Axe Effect perlahan memudar seiring langkah kakinya menuju seorang wanita yang mengenakan strapless long prom dress merah yang begitu menggoda. Pelukan erat dan kecupan pipi menambah kesan keakraban mereka ditambah beberapa percakapan yang menggoreskan lengkungan senyum dan sedikit tawa kecil. Aku lebih memilih pergi mencari makanan yang mungkin bisa dicicip dari pada mulai menumbuhkan rasa cemburu yang tidak penting.

Almond cheese cokelat, klapertart, dan puding semangka tampak menggoda selera ku, namun aku hanya bisa mengambil buah-buahan yang tersaji untuk menjaga berat badan ku.

“Kau sudah makan?”
“Oh Max, urusan mu sudah selesai?”
“Sudah. Kau hanya makan buah saja?”

Aku tersenyum mendengar pertanyaan Max, tak bisa ku tampik lagi kalau aku memang sedang dalam masa diet.

“Oh ayolah Sunshine, apakah kau masih mempertahankan diet konyol mu itu? Lihat lah tubuh mu, kau sudah tampak luar biasa malam ini. Untuk apa kau melakukan diet lagi?”

Sekali lagi. Hanya senyum yang bisa ku berikan atas pertanyaannya. Mungkin dia juga tidak tahu jika dress yang ku kenakan saat ini begitu sempit dan bahkan hampir tidak dapat ku pakai.

“Ya, baiklah. Kita lupakan dulu soal diet mu itu. Ada yang ingin ku bicarakan dengan mu. Mungkin ini akan sedikit mengejutkan mu, tapi…”

Max terdiam, tampak gugup dan sedikit kikuk. Aku terdiam memandang matanya yang tampak sedikit gusar.

Sunshine, ku rasa ini semua harus diakhiri…”
“Diakhiri? Apanya yang diakhiri?”
“Emmm…”

Belum sempat Max mengutarakan maksudnya, rasa geli di perut membuat ku sedikit merinding.

“Maaf Max, aku harus ke toilet sekarang. Bisa kau tunjukkan di mana toiletnya?”

Max mengarahkan telunjuknya ke ujung koridor. Aku berjalan cepat menuju ke sana dan menemui sebuah pintu di dalamnya.

“Kau lihat Max tadi?”

Seorang perempuan bertanya kepada orang lain di luar pintu, terdengar seperti sebuah percakapan yang terjadi di luar sana.

“Ya, dia tampak dekat dengan Selena, mantan pacarnya waktu SMA dulu”
“Oh ya? Wanita yang bergaun merah tadi itu Selena?”
“Ya, dia Selena”
“Jadi apakah mereka akan melanjutkan hubungannya yang dulu?”
“Aku tidak tahu, tapi mungkin saja begitu”

Aku segera membersihkan diri dan menekan tombol flush. Seperti tersambar petir, aku shock mendengar percakapan mereka. Tidak mungkin dia tega meninggalkan ku hanya untuk kekasih lamanya. ‘Akhir’ tadi Max mengatakan ‘akhir’. apa yang dimaksudkan Max dengan kata-katanya tadi? Apa yang diakhiri? Tidak mungkin dia meminta ku datang ke pesta ini hanya untuk mengakhiri hubungan kami. Aku terus bertanya-tanya, aku terus merasa curiga. Jantung ku berdetak kencang saat aku memikirkan untuk berpisah dengan Max, rasa takut ku menjadi-jadi hingga mata ku sedikit berkaca-kaca. Matahari ini mungkin tak pernah sama lagi, mendung kini menaungi ku masuk ke dalam pemikiran yang gelap dan kelam. 

Aku segera keluar dan menghampiri Max, namun sepertinya dia sudah bersama wanita itu. Dekat, sangat dekat jarak diantara mereka, sebegitu dekatnya hingga kaca yang telah tebentuk pecah mengeluarkan tetesan air yang mengalir menyusuri pipi ku. Max mengajak wanita itu ke tengah dan mengambil sebuah mic. Dia menatap ku dari kejauhan dengan wajah yang masih sama tegangnya seperti tadi.

“Aku minta perhatian kepada semuanya sebentar. Malam ini aku ingin mengumumkan sesuatu yang penting. Aku mempunyai kekasih yang bernama Joyce. Dia ada di depan sana mengenakan gaun berwana pink.”

Bak Miss Indonesia, semua mata tertuju kepada ku yang sedang terdiam canggung. Aku segera menghapus air mata supaya tidak merusak eye liner ku yang sudah ku bentuk selama berjam-jam.

“Aku ingin membacakan sebuah puisi untuknya. Puisi terakhir yang akan ku bacakan sebagai pacarnya. Ya, mungkin saja setelah ini aku tidak akan menjadi pacarnya lagi”

Sontak jantung ku berhenti meski hanya untuk sebentar. Kenyataan paling pahit yang ku bayangkan terjadi di depan mata ku. Di depan puluhan orang di pesta ini. 

Lantunan gesekan biola mengalun dari tangan wanita bergaun merah itu, sebuah puisi terucap dari mulutnya yang sedikit bergetar.

“Matahari ku, hidup ku hangat bersama mu
Meski kita tak lepas dari pertikaian
Meski ragu datang mengganggu
Tapi cahya mu tak hilang ditelan hujan

Matahari ku, kau lah yang pertama bagiku
Melelehkan es yang telah membeku
Merapuhkan hati yang keras membatu
Hingga membentuk ku menjadi yang baru

Matahari ku, kau lah yang terakhir untukku
Ijinkan ku menoreh senyuman itu
Membuat kita menjadi satu
Maukah kau menikah dengan ku?”

Alunan biola berhenti, matanya memandang ku dengan penuh harap, sepenuh harapan mata-mata yang kini menatap ku untuk menunggu sebuah jawaban.

“Aku… aku…” lidah ku kelu, tak dapat mengutarakan apa-apa, tak dapat berpikir apa-apa.
Max datang menghampiri ku, mendekat kepadaku dan memegang tanganku.

Sunshine, would you illuminate me every morning and be my wife?

Aku memeluknya. Mengucapkan beberapa bisikkan kata yang hampir tidak bisa ku keluarkan.

I do… I do…

Sinar ini muncul kembali sesudah awan gelap berkemul di hati dan pikiran ku. Kini matahari ini tak pernah sama lagi, seperti status kami yang tak pernah sama lagi, we are married now.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar